Senin, 16 Januari 2012

Coklat Keju

Ada selaksa bintang disana...
Ku tunjuk satu, kukatakan padamu "itu satu, milikku"
Namun kau malah tersenyum "bukan"
Aku merengut... Seperti itukah dirimu???
Rasanya palu godam menghantam kepalaku!
"Rentangkan jari tanganmu" perintahmu
Aku tak mengerti,berkernyit keningku...
"Jarimu tak hanya satu, kenapa hanya menunjuk satu?"
Aku tertegun...
"itu selaksa bintang"
Kuikuti rentangan tanganmu...
"Tapi bukan milikmu"
Ah, aku tak mengerti...
"Itu selaksa bintang, milik kita..."  
Dan begitulah kau membisikannya padaku
Semanis coklat, Selembut keju...


-Annida,NgaYogyakarto,16 Januari 2012-











Kamis, 12 Januari 2012

Ada Apa Januari?

Dan belum genap setengah bulan awal tahun ini berjalan, tapi rasanya sedang berada di atas kapal..kapal ditengah lautan, diombang-ambing ombak, diamuk angin, dihajar badai. Terkadang oleng, terkadang miring, mencoba tegak,mudah-mudahan saja tak karam...
arrggghhhhh....kepalaku mau pecah!

Jumat, 06 Januari 2012

Tersenyumlah, Agar Segalanya Lebih Mudah :)

Sebab kau tahu, hidupmu bukanlah hidup Cinderella
Selalu ada rona kecewa, selalu ada rasa terluka
Tersenyumlah...
Karena pahit memerlukan gula
Karena luka membutuhkan cinta
:)








Senin, 12 Desember 2011

Dekat Mendekatkan

Sebuah catatan kecil saja. Tentang sebuah jarak, tentang sebuah kedekatan.
Bila banyak yang sibuk menorehkan ukiran catatan perjalanan sejauh mungkin, maka tengoklah. Mungkin ada hal-hal terdekat yang kita lupakan. Tetangga yang sakit, nama pak RT, gedung sekolah yang rusak, uban dirambut orangtua yang tak lagi sebanyak hitungan jari. Dekat, namun mungkin terlupakan. Ya, meski tak ada maksud untuk melupakan.

Maka berjalanlah, tengoklah hal-hal disekitar kita. Entah itu tetangga, makanan, tempat wisata, kabar desa. Dan inilah beberapa hal yang baru "kutengok" selama hampir 4 tahun keberadaanku di Kota Budaya ini. Dekat, tapi terlewatkan.


Sate Padang

Letaknya sepelemparan batu saja dari kosku. Mungkin karena tersugesti dengan makanan berlabel "padang" yang biasanya kurang ramah dengan kantong mahasiswa, sehingga baru-baru ini saja dapat bertandang ke tempat ini. Dan ternyata..emang agak mahal sih, hehe. tapi rasanya cukup berbeda dengan bumbu rempah-rempahnya, walaupun sayang...daging satenya kurang banyak (itu sih maunya) :)


Monumen Jogja Kembali (Monjali)


Pintu masuk Monjali
 


 
Monumen "Kerucut" Monjali....mumpung ada si hello kity, narsis dikit boleh dong y :)   





  Monumen Yogya Kembali ada 3 lantai. tapi sialnya waktu itu salah masuk, jadi langsung ke lantai 2 terus ke lantai 3, barulah turun naik lift ke lantai 1!gubrak banget kn?
di lantai 2 isinya diorama-diorama tentang sejarah zaman kemerdekaan dulu. ga begitu jelas kemerdekaan zaman mana, karena dioramanya ada dilorong yang melingkar dan gelap banget!hiiyyyy...ditambah suara-suara yang menjelaskan tentang peristiwa zaman baheula itu tapi lebih mirip suara-suara di film horor. Belum lagi waktu itu hanya ada aku dan temanku, iya, cuma berdua tok! jadinya boro-boro menikmati diorama, yang ada malah pengen cepet-cepet keluar nyari cahaya. haha, emang dasarnya penakut sih....


 Dilantai 3 ada semacam ruang untuk mendoakan arwah para pahlawan. Isinya cuma ada tiang bendera ditengah-tengah ruangan, udah selesai...mati gaya kan? tapi desainnya emang keren. didinding ada semacam kata-kata yang diukir gaya teks proklamasi gede banget, terus dilangit-langit ada gambar-gambar tangan yang berpegangan. sayang ga ada fotonya....bingung mau ngapain, akhirnya kita turun ke lantai 1 pake lift yang sempit banget...


Di lantai 1 ruangannya lebih banyak. ada ruang-ruang pameran yang memamerkan barang-barang zaman dulu, yang paling diinget sih dipamerin bajunya pejuang siapa (lupa namanya) saat tertangkap. tapi ga tau juga itu baju benar-benar asli atau ngga. ada juga ruang serbaguna, aku sama temenku malah duduk-duduk dikursi sana sambil ngobrol lama, cuek banget...hehe, dan seenaknya sendiri menduga-duga kalau ruangan itu sebenarnya ruangan bulutangkis. secara dibawah ruangan ada garis-garis persis dilapangan bulutangkis (sebagai orang yang suka nonton bulutangkis so pasti aku hafal banget). ada juga ruang perpustakaan dan handicraft yang sayangnya masih tutup.
Tapi yang lucu di lantai 1 kita bisa nonton TV! haha... jadi ada ruangan yang disekat pake tirai bambu dan ternyata didalamnya ada kursi-kursi dan televisi. TVnya nyala, chanelnya RCTI!ckck...mumpung ga ada orang kita pun nonton dengan santainya disana. temanku itu malah cuek tiduran di kursi yang panjang, haha...pengunjung paling bandel deh!


Secara umum sebenarnya letak Monjali udah stategis banget, ditengah kota dan ada shelter busway pula. Lingkungannya pun bersih, tanaman-tanamannya rapi banget, cukup luas juga...hanya ada beberapa hal saja di dalam museum yang cukup membosankan. Mungkin itulah sebabnya sedang dilakukan pembangunan banyak hal. Saat berkunjung kesana sedang dibangun arena permainan dan berbagai arena lain. Itulah kenapa ada si hello kity itu yang ikut nongol di foto. Mungkin kalau pembangunannya sudah selesai, aku mau berkunjung kesana lagi...


























Selasa, 06 Desember 2011

Episode Satu Jari

Orang bilang zaman ini zaman canggih, dengan satu jari semuanya...beres!
mau ikut pemilu? tinggal nyoblos di TPS dan diberi tinta dijari kelingking...satu jari!
mau kirim pesan? tinggal pencet-pencet keypad handphone dengan jempol tangan...satu jari!
mau ambil uang? tinggal sentuh layar touchscreen ATM dengan jari telunjuk...satu jari!
Olala...satu jari ternyata bisa mempengaruhi banyak hal dalam kehidupan kita...
Lalu bagaimana jika satu jari ini juga membuat malas pergi kemanapun (jalan-jalan,ngampus,bahkan ke kamar mandi!) ?
ya, itulah yang aku alami...

Satu jari yang mempengaruhi kehidupanku kini bukan termasuk jari-jari yang "diperhitungkan". Yup, apalah artinya jari tengah kaki kanan jika dibandingkan dengan jari telunjuk, jempol, dan kelingking yang bisa mempermudah hidup manusia? jari tengah (kaki pula) tak bisa digunakan untuk memencet keypad, mengambil uang,mencoblos kala pemilu, bahkan untuk menendang benda kecil saja harus bersama-sama dengan jari lainnya. menyedihkan bukan? :(
Eits...tapi jangan salah...

Jari tengah kaki kananku kini tengah memegang peranan penting. ya, semenjak penyakit yang bernama mata ikan menggerogoti (lebay!) jari tengah kaki kananku itu, aku jadi males pergi kemanapun. entah pula apa itu penyakit mata ikan, yang besarnya tidak lebih dari biji jeruk ukuran kecil namun sakitnya luar biasa jika tertekan. Alhasil karena tak tahan dengan sakitnya, si mata ikan ini pun diambil dengan operasi kecil di klinik kampusku. Awalnya biasa saja karena aku pikir ini hanya operasi kecil, namun melihat jarum suntik ternyata ciut juga. Dan benar saja, saat  jarum suntik masuk ke dalam jari yang terkena mata ikan itu (udah mata ikannya sakit, disuntik pula) sakitnya juga bukan main. namun setelah itu, ploooong....ternyata cairan didalam jarum itu adalah obat bius lokal untuk membius jariku. Tak jelas benar apa yang dilakukan dokter, aku hanya merasakan jariku tengah dikorek-korek...Tapi..loh...kok ada asap? sempat panik sebentar, tapi kemudian aku tahu bahwa cara untuk mematikan si mata ikan itu dengan cara dibakar.
Tak lama kemudian operasi kecil itu pun beres, karena penasaran aku meminta dokter untuk memperlihatkan wujud si mata ikan itu. Oh...gitu toh...bentuknya simpel saja, bulat kecil namun keras dibagian tengah. bagian yang keras itu rupanya mempunyai akar dan berwarna bening.

Fiuh...meski harus berjalan dengan terpincang-pincang tapi aku cukup lega. sekarang tinggal perawatannya saja, tidak boleh terkena air dan 2 hari lagi harus ganti perban, begitu petuah dokter. okelah...gampang!
Tapi rupanya, praktek tak segampang teori. petuah tak boleh terkena air ini benar-benar membuat susah. mau mandi, harus membungkus kaki kanan dengan kresek kecil dulu (udah kayak daging kurban pake dikresekin segala), belum berdirinya juga tidak bisa tegak karena takut air merembes ke dalam kresek. alhasil, jadilah males mandi,hehe. mau nyuci, jelas tidak mungkin (okelah, ini bisa dimanfaatkan sebagai alasan untuk laundry, horeeee...ups!), mau bersihin kamar mandi apalagi, intinya segala aktivitas yang berhubungan dengan kamar mandi jadi terasa menyebalkan. Belum lagi harus berdiam diri di kos, oh tidaaak...bisa mati gaya! karena walaupun si mata ikan ini bukan ditelapak kaki (tapi dipinggir jari) tetap saja rasanya nyut-nyutan jika berjalan. Karena senewen, aku pun nekat berjalan cukup jauh demi menghindari mati gaya di kos. Hasilnya? setelah kembali ke klinik untuk ganti perban, ternyata luka di jariku itu malah lembab dan bengkak, hiks hiks...
aku pun baru tahu bentuk jari tengah kaki kananku sekarang, pinggirnya bolong dengan daging yang terlihat. huwaaaaa.....
Jadilah kembali ke episode semula, dikasih obat lagi, diperban lagi, dan...sakit lagi! :(

Melihat kondisi seperti itu, dokter menyarankanku untuk merawat lukaku itu sendiri. Caranya, setiap pagi   diberi betadine dan diplester, sementara jika malam hanya diberi betadine saja. Dan karena lukaku itu ada dibagian pinggir, setiap kali mau tidur dua jari disebelahnya harus "diikat" agar tidak bersentuhan dengan jari tengahku. selain itu, sela-sela jari tengah dan jari manis harus disumpal kain kasa agar terdapat jarak. Ribet....-_-". Sebenarnya alasan utama kenapa aku harus merawat lukaku sendiri adalah karena aku termasuk tipe orang dengan keringat berlebih (hyperhidrosis). Jadi, mau bagaimanapun caranya aku menjaga perban lukaku tetap kering, lukaku akan tetap lembab karena keringat. Capek deh... itulah kenapa aku tidak boleh pergi  terlalu jauh, karena pasti akan berkeringat dan membuat lukaku bertambah lembab. Itu artinya juga, lukaku akan semakin lama sembuh dan...semakin mata gaya dikos!Tidaaaak..... 

Yup,begitulah....satu jari. Satu jari yang selama ini tak kuperhitungkan keberadaannya, satu jari yang kadang mungkin tak kuhargai, satu jari yang juga mungkin sering terlupakan...kini menunjukkan eksistensinya. Ia tengah menyadarkanku bahwa tak ada satupun yang diciptakan Allah itu sia-sia. Sekecil apapun, setidakberharganya pun bagi kita, ternyata tak ada yang sia-sia bagi-Nya. Satu hikmah yang menamparku, yang mengingatkanku untuk tidak menyia-nyiakan hal-hal kecil.
Meski begitu., kadang masih malu mengakui penyakit yang "tak elit" ini, bayangkan saja jika ditanya :

X     : katanya habis operasi nin? (tentunya dengan nada khawatir)
Aku : iya, operasi kecil..
X     : memangnya sakit apa? 
Aku : mata ikan... (dengan nada rendah)
 X    : hah?apaan tuh mata ikan? 

 Ga elit kan?ckck...tapi lagi-lagi aku disentil, ketika dengan nada bercanda kukirimkan balasan sms ini pada seorang teman yang menanyakan keadaanku :
"iya nih, habis operasi kecil mata ikan. ga elit bgt ya sakitnya?hehe" (masih ketawa pula)
dan dengan skak mat dia menjawab "bersyukurlah teh. dikasih sakit ga parah malah minta yang parah"
Jleb! nusuk...dalem...
ah manusia....

                                      Peralatan perangku : Kain Kasa, Betadine, Plester

























Selasa, 07 Juni 2011

Celoteh Anak

Jika bumi sudah kehilangan keasriannya, maka anak-anak itu kehilangan tempat mereka melepas imajinasi. Kaki-kaki kecil mereka terkungkung, hanya bisa berlari sebatas lapangan upacara yang tak seberapa.Tak ada tempat lapang untuk bermain, sebab kini tanah lapang itu berubah menjadi tembok-tembok pencipta rupiah, sebuah tempat kos yang cukup elit. Ya, ini kisah tentang anak-anak yang ada dilingkungan tempat tinggalku. Dulu, hampir 2 tahun yang lalu ketika baru pindah kesini, sering kulihat anak-anak itu bermain-main ditanah lapang yang tak seberapa. Celoteh mereka menjadi seperti oase, kadang ingin berhenti sejenak untuk turut bermain bersama mereka, tapi aku tahu itu tak mungkin. Jadwal kuliah mengejarku, apalagi perjalanan ke kampus yang harus ku tempuh dengan berjalan kaki. Terkadang,ah bukan kadang tapi sering sekali aku iri dengn keriangan yang mereka miliki. Tak ada beban, tak ada prasangka…semuanya alami. Namun kini,keriangan itu menjadi senyap. Kemana mereka sekarang? mungkin sedang duduk manis didepan televisi, menyaksikan acara-acara yang kadang patut ditanyakan kualitasnya. Atau mungkin tengah asyik terpekur didepan game,entahlah….Dan memang beginilah kehidupan kota,maka aku yang tumbuh dengan imajinasi yang bebas ditengah keasrian desa merasa sangat beruntung. Masih bisa kunikmati pemandangan hijau…dan pandanganku tak terbatas, mengitari sawah-sawah,ladang-ladang dan menceburkan diri disungai…tak ada beban, hanya keriangan yang mewujud. Sungguh, baru kusadari betapa indahnya masa kecilku. Meski tak ada teknlogi canggih, meski tak akrab dengan barang-barang mewah. Namun keriangan itu masih mengendap dalam sanubari, indah….

Senin, 14 Maret 2011

curhat doang

ketika disetiap masa
pasti ada sebuah cerita


pernakah kamu merasa mempertanyakan semuanya kembali?
ketika tiba-tiba keraguan itu datang begitu saja menyergapmu
membuka matamu akan sebuah kenyataan disekeliling,
dan kesediahn itu menyeruak...
membangkitkan kesadaranmu, bahwa kamu sendiri...
bahwa mungkin anggapanmu selama ini salah...
dan kemudian gamang,
lalu apa setelah ini?
semua masih dalam keadaan yang sama
hanya sudut pandangmu yang berbeda
pahit...
dan kamu hanya berusaha tegar
meski mungkin sebenarnya rapuh

Just alone

kawan,
pernahkh dirimu merasa sendiri
merasakan kesendirian ???
ketika bahkan kamu meragukan hatimu sendiri

Selasa, 21 Desember 2010

Refleksi , Resolusi

Hanya waktu
namun lihatlah, berapa banyak yang tergelincir olehnya ?
sebuah refleksi adalah sebuah evaluasi
sebuah kejujuran pada diri sendiri terhadap apa yang telah dilakoni


seberapa banyak potensi yang telah kau gali ?
hitunglah dan bandingkan
dengan seberapa banyak kesia-siaan yang telah kau lalui?
inikah pilihan ?
ya !
karena hati adalah kuasa kita

menangis ?
pun sebuah pilihan
karena dengan begitu hati akan menemukan sosoknya kembali
tak perlu congkak !
sebab hanya akan menambah jelaga hitam yang menyelubungi hati
jujur saja kau akui
jika dalam rentangan waktu ini nafsumu lebih menguasaimu...
dan hargailah dirimu sendiri jika kau sudah merasa menang atas nafsumu itu

tahun...
hanyalah sebuah perhitungan waktu
namun bukan waktu itu sendiri
berusahalah untuk tak terjebak
jangan jadikan ia patokan
tapi jadikan ia peringatan

Resolusi
adalah sebuah harapan
bukan penjeratan
yang menjadikan kita manusia robot
terkekang oleh obsesi-obsesi target
bersedih dengan kegagalan
jangan !
jadikan resolusimu adalah sebuah makna
jangan pula kau kecewa
jika sejarah tak pernah menorehkannya
sebab mungkin...
kita tak dikenal penduduk bumi
namun dikenal oleh penduduk langit...,

*refleksi dan resolusi bagi diri sendiri
--> harapan.semangat.cita-cita.makna.journey.cinta

Rabu, 27 Oktober 2010

Muhasabah

Aku yang tak biasa dan tak suka dengan cuaca panas kali ini terpaksa berdamai dengan alam. Merapi yang meletus membuat cuaca Yogya yang sudah panas menjadi semakin panas. Inginya berdiam diri di DS, namun beberapa amanah mengharuskanku menginjakkan kaki keluar. Belum satu jam berada diluar,bajuku sudah basah oleh keringat. Tiba-tiba saja teringat apa yang dikatakan abi di kelas pagi tadi "panasnya cuaca seharusnya membuat kita bisa merasakan sedikit panasnya neraka", semua tercenung, aku yang sempat terkantuk pun terlonjak.
Ini pertama kalinya bagiku berdekatan dengan bencana. Sepanjang hidupku (alhamdulillah) tak pernah kulihat dahsyatnya bencana alam dengan mata kepalaku sendiri. Tidak banjir, gempa, gunung meletus, apalagi tsunami. Hanya mendengar cerita dan cerita. Cerita ibuku tentang meletusnya gunung galunggung dengan hujan abunya yang tebal, cerita nenekku tentang kejamnya tentara jepang,dan cerita-cerita lain yang tentu menggiriskan. Namun kali ini, begitu dekat. Seharusnya ini menjadi muhasabah bagiku, menjadi alarm tanda bahaya bagi ibadahku yang sering tak sempurna, ampuni hamba Ya Allah ...

Jumat, 15 Oktober 2010

Sunyi *

Merindukan kesunyian
tak perlu berlama-lama, hanya membutuhkan beberapa jenak saja
antara aku dan hidupku
berdialog,menemukan muara atas semua pertanyaan
hendak kubawa kemana semua ini ?

Selasa, 05 Oktober 2010

Sebuah Pesan

Bersabarlah sepahit apapun luka yang tertoreh
Karena hidup terlalu ringkih tanpa pengorbanan
Jadilah seperti rumput yang lemah lembut namun tak luruh meskipun ribut
Jadilah setegar karang didasar lautan yang tak goyang diterjang gelombang
Teguhkan pendirianmu sepanjang hidup dan usiamu
Jangan mudah berputus harapan
Karena tidaklah pantas seorang mukmin berputus asa dari rahmat Allah :)


*jazakillah mba dida sayang...*

Minggu, 03 Oktober 2010

Tegar

Seperti suplir yang tetap kokoh
meski tangan manusia merebutnya dari akar
mencerabutnya dari tempat yang nyaman
ia tak bergeming !
tak merubah dirinya menjadi bunga layu
tak berniat merontokkan daun-daunnya yang indah
ia bunga, dan tetap menjadi bunga
tak peduli sekitar, tak peduli lingkungan
izinkan aku seperti itu Tuhan...
menjadi akhwat istqomah
menjadi akhwat pembelajar


*setelah mendapat bunga suplir dari mba Lala --> Ukhuwah yang indah*

Sabtu, 02 Oktober 2010

Yipi, That is My Ira

Wajah saudariku yang satu ini memang selalu ceria, tak pernah kehabisan tawa meski kadang suka anarkis, he...dia memang istimewa, tahu kapan saat aku butuh nasehat dan tahu kapan saat aku hanya butuh didengarkan. Yang paling membuatku tak mengerti bagaimana dia bisa tahu bahwa dikepalaku sedang bertumpuk banyak pikiran, dan dengan tenangnya dia akan mendengarkanku, hanya mendengarkan ! dan itu sudah sangat membuatku lega. Pernah suatu kali dia membuatku tertawa terpingkal dengan kata-katanya, yang dengan cueknya bilang "awas aja na kalo setiap pulang dari kampus mukamu masih kayak marmut kejepit pintu", hahaha...aku tak bisa menahan tawa ketika itu. Sekali lagi, dia memang istimewa, meski juga anarkis... :)

Dan magrib kemarin aku bertemu dengannya dimasjid. Mba Galuh pemandu kami sampai harus menengahi, karena yah sekali lagi dia mendzalimi diriku, meski kadang gantian, hehe... mau shalat masih ribut berdua, apalagi aku bersebelahan dengannya, maka dengan sigap mba galuh bertukar tempat dengannya. shalat pun bisa dimulai dengan tenang. Imam baru saja membaca surat al fatihah ketika tiba-tiba ku dengar suara berdebum, awalnya kukira itu suara de Hamas yang biasanya bermain-main dibelakang ketika kami sedang jama'ah, tapi kemudian kudengar suara erangan, suara kesakitan ! ya Allah...pikiranku tak lagi fokus ! rupanya saudariku itu yang tengah mengerang kesakitan, asmanya kambuh ! shalat tak mungkin ditinggalkan, beberapa akhwat dengan sigap membantu saudariku itu. selesai shalat kulihat dia terkapar dimasjid, dengan wajah yang lelah, dengan nafas yang tersengal. tak ada yang bisa kulakukan, hanya sebaris doa yang terlantun di hati untuk kesembuhannya. Penyakitnya yang kambuhan itu terkadang membuatku khawatir, tak bisa kubayangkan jika tiba-tiba saja asmanya kambuh saat dia tengah mengendarai motor. ya allah jangan...lebih dari itu sebenarnya Allah tengah memberiku peringatan bahwa seperti asma yang bisa muncul tiba-tiba, kematian pun akan menjemput tanpa permisi, tanpa melihat kita siap atau tidalk.
ah saudariku, bahkan saat tengah kesakitan pun engkau memberiku banyak pelajaran dan hikmah...

*di kelas, kulihat dia sudah tertawa-tawa lagi, dan tetap anarkis, apalgi aku satu kelompok tahsin dan tahfidz dengannya. Tuh kan, waktu lagi setor hafalan masih bisa-bisanya dia menggangguku, dan kali ini mba dida yang beraksi, hehe* peace ya mba...:)

Jumat, 01 Oktober 2010

Beliau...Inspirasiku

Saat-saat seperti ini selalu hadir kerinduan untuk kembali pulang kampung, merindukan suasana yang damai meski alasan yang paling tepat mungkin untuk melarikan segala kegunadahan. dan entah kenapa kemudian terlintas bayang-bayang wajah murobbiyahku yang sekarang nun jauh di Jakarta sana.
Maka aku coba searching dengan mengetik nama beliau di mesin mbah google.
Nothing !

ya sudahlah...bukan rezekiku untuk mengetahui keadaan beliau saat ini, tapi kemudian sebaris nama membuncahkan semangatku. Bukan nama murobbiyahku, melainkan sebuah nama yang cukup ku kenal, Nuha ! aku ingat itu adalah nama putri pertama beliau... kubuka web tersebut, dan benar saja disana tertulis bahwa Nuha adalah putri murobbiyahku. Kubaca artikel itu samapai tuntas, dan seketika buncahan kerinduan itu semakin menjadi.

Sosok beliau yang tenang dan cerdas selalu membuatku iri, mampukah aku meneladani beliau ? seorang muslimah cerdas, teguh memegang prinsip, ibadah yang tak putus hingga kemampuan bermasyarakat yang jempolan. Pun aku tak heran jika sekarang putri beliau menjadi murid teladan...ah, selalu...orang-orang yang membuatku iri adalah mereka yang tak kenal malas, fokus pada orientasi, dan tahu untuk apa mereka disini. Aku iri pada apa yang ada di hati mereka, pada semangat yang menyala-nyala, dan pada kesungguhan mencari cinta-Nya. Mereka telah berhasil (insya allah), dan kini giliranku, akan seperti apa kelak aku membawa diriku, keluargaku dan lingkunganku ? hanya 1 jawaban, berhasil atau gagal...
Ya Allah, persiapanku belumlah apa-apa...

#terngiang kata-kata beliau " de, hati itu tidak akan bisa disentuh kecuali oleh hati yang tulus"

Rabu, 29 September 2010

jejak

Luruh...
kukenang kembali perjalanan hidupku, apa yang kumengerti ?
hanya seuntai doa dalam sujud yang terkadang tak terasa, Semoga Engkau masih berkenan membimbingku ya Rabbi, di atas semua kekhilafanku...
meski sering tak ku pahami semua skenario-mu ini, meski aku merasa terlalu terjal, aku hanya yakin Engkau yang menggenggam hidupku...
izinkan ku kembali, menjejak kembali langkah-langkah kemuslimahanku
meski entah apakah aku mampu
sebab tak lain, aku hanyalah akhwat dengan segudang catatan

Senin, 09 Agustus 2010

Ramadhan Dalam Sepotong Tahu

Entah, sebenarnya aku juga bingung dengan apa hikmah dibalik peristiwa ini, tapi jika ingat kembali selalu membuncahkan kerinduan akan suasana ramadhan dirumah tercinta...
Ramadhan tahun 2007, ramadhan terakhirku yang kulewatkan sepenuhnya dengan orang-orang tercinta di rumah tercinta. Awal ramadhan kala itu, lepas shalat tarawih kulihat pamanku tergesa-gesa menuju rumahku. kehebohan pun terjadi, rupanya bibiku (yang berarti istri pamanku) akan segera melahirkan. Tanpa ba bi bu lagi kami sekeluarga segera menuju kerumah nenek, karena memang paman serumah dengan nenek. si ceriwis Khilda pun ikut serta padahal dia sudah tertidur lelap. Kulihat bibiku sedang meringis-ringis kesakitan. Melihatnya meringis kesakitan begitu aku malah ikut-ikutan meringis juga. Kasihan jelas, tapi apa daya tak ada yang bisa kulakukan. akhirnya bibi dibawa ke bidan terdekat. ibu sebagai yang dituakan ikut menemani bibiku. sementara aku, khilda, teteh, dan kakak iparku menemani nenek. Berita yang kemudian kudengar bukanlah berita yang baik. Bibi harus dibawa ke rumah sakit ! tak lain dan tak bukan karena ada masalah dalan proses persalinannya sehingga harus dioperasi. aku tak begitu tahu persis kenapa. malam itu juga ibu beserta bibi-bibi dan pamanku yang lain membawanya ke rumah sakit. Sementara aku yang awalnya akan menginap di rumah nenek terpaksa harus pulang karena khilda meminta pulang. Jadilah malam itu aku, teteh, khilda dan kakak iparku pulang ke rumah.
Waktu sahur, teteh membangunkanku karena aku terlambat bangun. Baru sadar kalau makanan sisa buka sudah habis. Aku sempat tercenung, trus gimana mau sahur ???
tiba-tiba begitu sampai dimeja makan....apa itu? sayur dengan warna yang aneh dan beberapa potong tahu di atas piring. Siapa yang masak ???dan...what ???teteh masak? hampir megap-megap aku tak percaya. beneran nih ??? beneran pengen ketawa waktu itu...tapi aku tahan.
"udah lo gak usah ketawa, cepetan makan" melihat muka adiknya yang sudah mau meledak tertawa teteh segera memberikan instruksi. teteh yang memang kuliah di jakarta, kadang-kadang masih membawa logat jakartanya, tentu saja hanya ketika berbicara denganku.
Aku manut, kutarik kursi. rupanya khilda pun sudah disana. dia yang biasanya nyerobot duluan kalau makan, kali ini mingkem. kulihat ekspresinya, sama-sama menahan tawa juga. mungkin jika kuterjemahkan seperti ini "jangan makan bi, pasti gak enak. mamah kan gak pernah masak".
tapi akhirnya demi menghargai usaha teteh kusendokan juga piring dan sayur aneh itu...uhuk ! sayur apa ni? mending kalo ada rasanya, ini benar-benar hambar !
"iya, itu gue yang masak. daripada lo gak sahur trus maag lo kambuh mending gue masakin"
"tapi ini apaan sih? emang teteh pake bumbu apa kok rasanya gak jelas gini?" tanyaku, dan kali ini aku benar-benar tertawa terbahak. Sementara kakak iparku cuma mesem-mesem gak karuan
"lo gak lihat? itu kan jamur?"
jamur?
"trus bumbunya pake apaan?"tanyaku lagi
"gak tahu, gue asal ngambil aja. apa yang ada ya gue masukin, yang penting kan jadi"
Gubrak !!!???
kepalaku pening..teteh..teteh...
"udah mending lo makan, keburu imsak entar"
tak yakin dengan sayur itu, aku pun akhirnya makan hanya dengan sepotong tahu, lumayanlah, daripada enggak, hehe
mendapat kesempatan untuk mencela, sepanjang perjalanan sahur itu tak henti aku menertawakannya. aku tak sendirian, khilda dan kakak iparku juga jadi partnerku. Tapi dasar tetehku emang cuek, segala hinaan itu ditanggapinya saja dengan santai...
disaat-saat seperti itu aku jadi merindukan ibu. Duh...kalau ada beliau pasti semuanya berees...
tiba-tiba hpku berdering. Rupanya pamanku mengabarkan kalau bibiku sudah selamat alias sudah melahirkan.
"trus jadi operasi gak?"
"nggak, keburu keluar bayinya"
ding!

ya, sejujurnya aku juga bingung dengan hikmah peristiwa di atas, apaan ya? tapi justru itu yang selalu membuatku rindu akan rumah, apalagi menjelang ramadhan begini. peristiwa-peristiwa kecil, yang mungkin biasa, tapi ternyata begitu istimewa.hfff...ini ramadhan ketiga, yang kulewatkan di negeri orang...
Memang, tak akan pernah ada yang mengalahkan rumah sendiri, bahkan istana termewah sekalipun. dan sekarang, andai saja boleh meminta, hanya satu hal yang aku inginkan, melewatkan ramadhan setidaknya hari pertama dengan ibu, dua keponakan tercinta, teteh dan kakak ipar di rumah. tapi rasanya tak mungkin, hiks...

Kamis, 05 Agustus 2010

Ironi

Awalnya aku pikir ini hanya gambaran kecil saja, tapi sepertinya pikiran itu harus ditinjau lagi...

Suatu hari di semester 4, tanggalnya lupa...
Kuliah siang hari yang bikin gerah sejujurnya terkadang menerbitkan rasa enggan untuk beranjak ke ruang kelas. Namun apa daya, SPP sudah dibayar, kegiatan lain pun tak ada, maka tak ada pilihan lain selain bertemu dengan sang dosen diruang kelas. Sebelum menunaikan kewajiban untuk belajar, kutunaikan dulu kewajibanku pada-Nya, shalat dzuhur.
Mushola cukup ramai,apalagi tempat akhwat yang memang cukup sempit membuat keadaan cukup sesak. Karena dikejar waktu kuliah mau tak mau aku pun harus segera melaksanakan kewajibanku itu. Padahal jika tak ada kuliah, aku lebih suka menunggu keadaan agak sepi dulu baru shalat (entahlah, pikiran ini salah atau tidak). Shalat agak terburu-buru, benerin jilbab juga terburu-buru, dan terburu-burulah pula aku melangkahkan kaki keluar mushola. Namun....aku berhenti seketika. didepanku seorang ibu tengah menunaikan shalat. Bukan apa-apa, aku melihat suatu keganjilan. Ibu itu memakai mukena, tapi hanya mukena atasannya saja! otomatis aurat dikakinya terbuka dan dapat dilihat siapapun, meskipun ibu itu memakai rok panjang. aku tercengang...
aurat itu... bukankah berarti shalatnya tidak sah ???
kepalaku pening, baru kali ini kulihat hal seperti itu

Rabu, 04 Agustus 2010 setelah rapat OC PPSMB
Kali ini juga agak grasa-grusu aku datang ke kampus. Sebelumnya aku tidak bisa datang untuk briefing pemandu karena harus bertemu dengan seorang teman, urgent. hujan yang deras cukup menghambatku untuk kembali ke kampus,padahal jam 4 sore itu aku harus datang dalam rapat OC PPSMB. maka begitu hujan mulai reda aku dan temanku buru-buru meluncur ke kampus, meski dengan pakaian yang cukup basah. Teringat belum shalat ashar aku pun segera melangkahkan kaki menuju mushola. "daripada shalatnya entar-entar, ga tau deh selesai rapat jam berapa" begitu pikirku dalam hati.
Mushola sepi, hanya sepasang sepatu dengan hak yang cukup tinggi kulihat di depan mushola. karena tak mungkin menitipkan tas pada siapapun, maka kuputuskan tas kubawa sembari mengambil wudhu. Ketika hendak takbiratul ihram, lagi-lagi aku tercengang. disampingku seorang ibu tengah menunaikan shalat dengan rambut (tepatnya poni) yang tergerai keluar. Ups ! jika dilihat dari tatanannya, aku yakin poni itu bukan tidak sengaja terlihat melainkan memang sengaja ditata seperti itu. aku meringis dalam hatoi "iya sih bu kalo mau shalat itu harus rapi, indah, enak dipandang, tapi bukan dengan memperlihatkan aurat " sejujurnya bingung, antara ingin tertawa atau tersenyum kecut.

Hmm...ya, awalny aku pikir hanya beberapa gelintir orang saja yang belum memahami mengenai wajibnya menutup aurat ketika shalat. tapi setelah melihat dua kejadian diatas dan kejadian-kejadian lain yang serupa, pikiranku terbuka. rupanya pr itu masih banyak.mmm...aku pikir penting untuk menempel semacam slogan atau apalah di mushola akhwat tentang shalat, terutama mengenai aurat.

Senin, 02 Agustus 2010

Trip

Hello..Nice to meet you
My name is Alexandra Cocella, call me Alex
(kemudian aku memperkenalkan diri)
Oh, i'm in law too..
(aku senang dan penasaran)
Do you know Sorbonne University ? i'm studying there, in faculty of law Sorbonne University
(sesaat aku tak bisa bernafas, Sorbonne University???apa aku tak salah dengar???)
oh great! if you continue your study there, you can call me
(dalam hati aku berkali-kali bilang amin...amin...)


*sekilas percakapan di ViaVia*

Harga Diri Perempuan

Entah bagaimana ekspresiku saat itu, ruang perpustakaan yang sepi membuatku bebas menggambarkan apa yang tengah kubaca. Sebuah skripsi ! tak bermaksud menyombong, tak bermaksud pula untuk sekedar gaya, aku hanya tertarik dengan judul skripsi itu, ketika aku tengah menyusuri rak-rak buku di perpustakaan kampusku tercinta. Jugun ianfu ! 2 kata itu yang menarik perhatianku. Rasanya aku pernah membaca atau mendengarnya, tapi aku lupa. Merasa penasaran kutarik skripsi itu. Rupanya itu judul skripsi Mba Lili Oktari, mahasiswi fakultas hukum angkatan 2005 jurusan hukum internasional. Hmm…aku yang memang sudah tertarik dengan hukum internasional menjadi semakin tertarik.

Lembar demi lembar kubuka. Semakin banyak aku membaca, aku semakin ingin menangis. Ya, sebab skripsi itu mengangkat kisah para jugun ianfu dimasa penjajahan jepang dulu. Jugun ianfu adalah sebutan bagi para perempuan pelacur dimasa itu. Para perempuan yang dipaksa melayani para lelaki bejat untuk memuaskan nafsu binatang mereka. Tentu saja para perempuan itu tidak dengan sukarela menyerahkan diri begitu saja.Kebanyakan dari mereka bisa menjadi jugun ianfu karena ditipu, dipaksa, bahkan diseret begitu saja ketika tengah berjalan. Allah…dimana rasa kemanusiaan ? bukan saja diri mereka yang menjadi korban, bahkan keluarga pun tak luput dari sasaran mereka. Ada seorang gadis yang tiba-tiba diseret ketika tengah berada dihalaman rumahnya. Sang ayah yang melihat hal itu serta merta menolong anak gadisnya, dan para prajurit jepang yang bengis itu pun dengan serta merta menebas leher sang ayah. Allah…sampai disini dadaku sesak,,,ngeri membayangkan situasi saat itu namun juga tersenyum untuk suatu kebenaran, cinta ayah pada sang anak yang tak ternilai…
Para jugun ianfu itu tentu saja tak diperlakukan secara manusiawi. Selain tak mendapat tempat yang layak, mereka juga dipaksa “bekerja” hampir sepanjang hari hingga banyak dari mereka yang rahimnya rusak, tak mendapat kebebasan sedikitpun karena kemanapun pergi mereka selalu dikawal agar tak kabur, belum lagi pandangan dari masyarakat yang menganggap mereka sebagai perempuan nakal. Padahal sungguh, bukan mereka yang menginginkan itu semua. Lepas penjajahan Jepang, sebagian besar dari mereka tak bernasib baik. Keluarga sudah tak ada, masyarakat tak mau menerima, akhirnya hidup terlunta-lunta, menumpang hidup pada orang lain, bahkan sampai harus tinggal dibekas kandang hewan. Sementara itu, pihak pemerintah penjajah yang seharusnya bertanggung jawab tak bereaksi apa-apa. Tak ada ganti rugi, tak ada perlindungan yang layak, bahkan permohonan maaf pun tidak. Padahal sungguh, para jugun ianfu itu tak hanya menderita secara fisik, namun juga secara batin. Hidup mereka kacau,ya hanya 5 kata yang bisa menggambarkannya, K-A-C-A-U..

Kemudian sebuah ironi muncul. Kebejatan saat ini bukan hanya dilatarbelakangi motif ekonomi, namun memang karena tak ada lagi perasaan malu. Jika dulu para perempuan sungguh perkasa mempertahankan kehormatannya, maka kini semakin banyak yang berlomba mengabadikan perbuatan bejat mereka. Ada apa ini ??? jika dulu para perempuan itu menjadi jugun ianfu karena terpaksa, maka kini banyak yang rela menyerahkan dirinya begitu saja demi selembar uang. Hfff…dimana harga diri seorang perempuan ??? Aku sungguh tak mengerti..

Rasa sesak itu tak berhenti…suara telepon membuyarkan lamunanku, suara ibu diseberang sana. Dengan khidmat beliau menuturkan pesannya, hingga satu pesannya yang sebenarnya sudah berulang kali kudengar tapi kali ini terasa berbeda “ jaga diri baik-baik nak, jangan sembarangan bergaul,ibu percaya padamu tapi perasaan orang tua tak bisa dibohongi, dimanapun kamu berada orangtua pasti cemas, apalagi kamu bungsu, perempuan pula, jaga diri baik-baik, jangan sia-siakan kepercayaan ibu.kamu sekarang tanggungjawab ibu” deg…kata-kata itu begitu menghujam. Tak lama kemudian ibu bercerita tentang keadaan kampungku, keadaan teman-temanku. Banyak dari mereka yang sudah menikah, namun banyak pula dari mereka yang menikah karena terpaksa, karena sudah “menabung” dulu sebelumnya. Miris…kubayangkan wajah-wajah polos kami ketika SD dulu. Kelu rasanya membayangkan sahabat-sahabat baikku itu. Namun aku tahu, tak pantas membebankan semua kesalahan pada mereka. Ini seperti lingkaran setan, entah dimulai dan berakhir dimana. Televisi yang bannyak menipu, membuat para perempuan tak pernah nyaman dengan diri mereka, rambut rontok malu, kulit hitam malu, semuanya serba tak nyaman,hingga sekarang bisa kita lihat efek dari semua itu. Para perempuan berlomba mempercantik diri, namun malu mempercantik hati. Jilbab dikatakan penghalang, berhijab dibilang kuno.
Apakah ini semacam pergesaran nilai ? entahlah, perlu sebuah penelitian khusus untuk itu nampaknya.

“Apakah benar emansipasi berarti bebas tanpa batas ?
Jika seperti itu, dari sisi mana kita bisa menilai harga diri seorang perempuan ?
Jangan jadikan euphoria sebagai sebuah alasan
Jika memang mau terjun bebas, silahkan terjun sendiri saja !
Karena Perempuan Indonesia adalah para perempuan tangguh
Hingga Belanda saja dibuat kocar-kacir oleh Cut Nyak Dien”



(untuk diri sendiri, evaluasi semuanya nina.. benarkah semua tindakanmu ini ???
Harga dirimu, kamu sendirilah yang menentukan…)